03 January 2012

Sensasi Ke-Indonesia-an di Universitas Indonesia


Halo! :D Perkenalkan jeh, namaku Bhinneka Tunggal Ika. Orang tua dan temanku biasa memanggilku Eka. Eka dalam bahasa sansekerta berarti satu atau satu kesatuan. Aku mau membagi sebuah cerita mengenai keunikan kehidupan di Universitas Indonesia dari sisi kebudayaan.



Dua tahun lalu, aku diperkenalkan oleh seorang teman pada universitas yang menyandang nama bangsa ini. Sejak itu aku berjuang dalam pertarungan mengalahkan rasa malas dan takut untuk mendapat kursi di sana. Hingga akhirnya mimpi itu mengantarkanku ke kampus perjuangan ini…

Begitulah, aku dan ribuan mahasiswa lainnya memang pejuang-pejuang mimpi. Universitas Indonesia adalah tempat berkumpul para pemimpi kelas kakap dari berbagai pelosok tanah air. Ibarat sebuah madu yang selalu dikerubungi oleh banyak semut, UI diminati oleh ratusan ribu calon mahasiswa. Padahal kursi yang ditawarkan cuma sepersekian dari jumlah pendaftar. Artinya cuma ‘semut’ yang punya kemampuan dan kemauan tinggi yang bisa menikmati ‘madu’ ini.

Terlihat sulit dan menakutkan? Santai jeh, aku dulu juga merasakannya. Tapi bukankah mimpi itu diciptakan untuk diwujudkan? ;) Rasanya berhasil menyentuh mimpi adalah salah satu hal terindah di dunia ini. Bagiku, begitu juga dengan keberhasilan menjadi bagian dari sivitas akademika UI. Nah makanya, kalian harus rasain sendiri!

Aku beri tahu ya, kampus ini memang sesuatu banget. Universitas Indonesia mewakili keragaman budaya dan tradisi dari berbagai macam daerah di Indonesia dalam lingkup kecil. Jadi nggak salah kalau kita menyebut UI sebagai “Miniatur Indonesia”. Setiap mahasiswa  UI membawa jati diri identitas kedaerahan. Hal ini dapat dilihat dari dialek, logat, warisan nilai  budaya khas, dan lain-lain.

Aku pernah tertawa kecil saat teman yang berasal dari Batak dan Padang melakukan presentasi di depan kelas. Logat kedaerahan mereka begitu kental, tergambar jelas dalam artikulasi pengucapan yang kadang medok banget. Di setiap sudut jalan, di dalam bikun (bis kuning), di dalam kelas, dan di mana pun, sering terdengar nyaring logat kedaerahan. Kadang muncul pertanyaan iseng di kepalaku, ”Mereka lagi ngomongin apa sih?”

Ya! Di sini cita rasa ke-Indonesia-an begitu menakjubkan. Kita bisa merasakan kearifan lokal masing-masing daerah di tanah air, bukan lewat buku teks atau diorama, tapi langsung dari putra-putri terbaik daerahnya. Minang, Batak, Aceh, Palembang, Maluku, Jawa, Sunda, Nusa Tenggara, dan semuaanyaa berbaur dalam satu bingkai yang bernama Universitas Indonesia.

Keberagaman ini sering menyadarkan aku bahwa bermacam seni, budaya, dan tradisi menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang kaya. Bersama-sama kita punya berbagai bentuk ekspresi budaya tradisional. Sensasi sebagai ‘orang Indonesia’ akan sangat terasa jika berada di tengah-tengah saudara-saudara dari seluruh nusantara.

Seperti namaku. ‘Bhinneka Tunggal Ika’ yang kata orang tuaku berarti ‘berbeda-beda tetap satu jua’, meskipun ada kebudayan dan tradisi yang berbeda-beda di kampus ini, itu bukan hambatan. Justru keberbedaan ini adalah perekat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Juga menjadi perekat persatuan dan kesatuan kampus kami tercinta ini.

Eitss, nggak semua universitas bisa menyajikan pengalaman ini lho ;)

Mangkane rek, ayo melbu UI dan rasakno dewe sensasi ke-Indonesia-an!


Oleh Luqman Hakim
Akuntansi Fakultas Ekonomi UI 2011

Related Posts by Categories

0 comments:

Post a Comment

tulis komentar...